Pengertian
Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD(Student Team Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif tipe STAD
merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada
aktivitas dan interaksi antarsiswa untuk saling memotivasi dan saling membantu
dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Tipe
ini dikembangkan oleh Robert Slavin. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD
merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan
model yang banyak digunakan dalam pembelajaran kooperatif. Bagian esensial dari
model ini adalah adanya kerja sama anggota kelompok dan kompetisi
antarkelompok. Siswa bekerja di kelompok untuk belajar dari temannya serta
„mengajar‟ temannya.
Slavin (dalam Nur Asma, 2006:51),
menjelaskan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa ditempatkan
dalam kelompok belajar yang beranggotakan empat atau lima orang siswa yang
merupakan campuran dari siswa yang kemampuan akademiknya berbeda sehingga dalam
setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi rendah, sedang dan tinggi atau
variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis atau kelompok sosial lainnya.
Guru lebih dahulu menyajikan materi
dalam kelas, kemudian anggota tim mempelajari dan berlatih untuk materi
tersebut dalam kelompok. Setiap kelompok diberi lembar kerja siswa (LKS).
Mereka membahas LKS tersebut dengan kelompoknya, bertanya satu sama lain,
membahas masalah. Kemudian, siswa diberi latihan atau evaluasi. Tugas-tugas
tersebut harus dikuasai oleh setiap anggota kelompok. Masing-masing anggota
kelompok harus memberikan skor untuk kelompoknya agar mendapatkan skor yang
sempurna dan akan mendapatkan penghargaan.
Tahap
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
Menurut Nurasman (2006:5) menyatakan
bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari enam tahap:
1)
Persiapan pembelajaran
Guru memersiapkan perangkat
pembelajaran yang akan digunakan meliputi RPP, LKS dan lembar jawaban serta menentukan
anggota kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4-6 orang. Aturan menentukan
kelompok heterogen dapat berdasarkan pada. :
a) Kemampuan akademik (pandai,
sedang dan rendah) Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya.
Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok
terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi yang seimbang.
b) Jenis kelamin, latar belakang
sosial, kesenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll.
2)
Penyajian materi
Guru memulai dengan menyampaikan
indikator yang akan dicapai, memberikan apersepsi dengan tujuan mengingatkan
siswa terhadap materi yang telah dipelajari agar siswa dapat menghubungkan
dengan materi yang akan dipelajari dengan pengetahuan yang telah dimiliki
siswa, kemudian guru menyampaikan meteri yang akan dipelajari saat itu.
Penyajian materi dapat menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan sebagainya
disesuaikan dengan isi materi dan kemampuan siswa.
3)
Kegiatan kelompok
Siswa diberi lembar kerja siswa (LKS
yang meliputi lembar tugas dan lembar kegiatan) yang akan dipelajari. Dalam
kerja kelompok siswa saling berbagi tugas, saling membantu dalam penyelesaian
tugas agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang dibahas. Hasil
kegiatan kelompok dipresentasikan di depan kelas oleh wakil setiap kelompok
secara bergantian. Guru memberikan kunci jawaban serta menjelaskan jika ada
siswa yang belum paham. Setiap kelompok memeriksa sendiri sambil melengkapi
jawaban.
4)
Tes individu
Siswa diberi soal tes untuk
mengetahui kemampuan dan pemahaman siswa mengenai materi yang telah dibahas.
Siswa tidak diperkenankan bekerjasama. Skor yang didapat akan digunakan pada
perhitungan perolehan skor kelompok.
5)
Perhitungan skor pengembangan individu
Penghitungan skor perkembangan
individu dilakukan setelah diperoleh skor tes, berdasarkan selisih perolehan
skor tes terdahulu (skor dasar) dengan skor tes terakhir.
6)
Penghargaan kelompok
Berdasarkan skor perkembangan
individu yang diperoleh siswa, siswa dapat memberikan sumbangan skor bagi kelompoknya.
Perhitungan skor kelompok ditentukan dengan cara menjumlahkan masing-masing
perkembangan skor individu dan hasilnya dibagi sesuai jumlah anggota kelompok.
Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan skor rata-rata yang dikategorikan
menjadi kelompok baik, hebat, super.
Kriteria yang digunakan untuk
menentukan pemberian penghargaan terhadap kelompok adalah:
a) Kelompok dengan skor rata-rata
15, sebagai kelompok baik
b) Kelompok dengan skor rata-rata
20, sebagai kelompok hebat
c) Kelompok dengan skor rata-rata
25, sebagai kelompok super
Langkah-langkah
Model Pembelajaran STAD
Menurut Agus Suprijono (2011: 133-134),
langkah-langkah pada model pembelajaran STAD adalah sebagai berikut:
1) Membentuk kelompok yang
anggotanya=4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin,
suku, dan lain-lain).
2) Guru menyajikan pelajaran.
3) Guru memberi tugas pada kelompok
untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat
menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu
mengerti.
4) Guru memberi kuis/pertanyaan
kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5) Memberi evaluasi.
6) Kesimpulan.
Dalam penelitian ini langkah-langkah
yang digunakan adalah semua langkah-langkah yang ada yaitu persiapan
pembelajaran, penyajian materi, kegiatan kelompok, tes individu, perhitungan skor
perkembangan individu dan penghargaan kelompok.
Kelebihan
dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Keunggulan dari model pembelajaran
kooperatif tipe STAD adalah adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam
menentukan keberhasilan kelompok tertergantung keberhasilan individu, sehingga setiap
anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain. Model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada aktivitas dan interaksi
diantara siswa untuk saling memotivasi saling membantu dalam menguasai materi
pelajaran guna mencapai
prestasi yang maksimal. Davidson
(dalam Nurasma, 2006:36), menyatakan kelebihan yang diperoleh dalam
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan kecakapan individu.
2) Meningkatkan kecakapan kelompok.
3) Meningkatkan komitmen, percaya
diri.
4) Menghilangkan prasangka terhadap
teman sebaya dan memahami perbedaan.
5) Tidak bersifat kompetitif.
6) Tidak memiliki rasa dendam dan
mampu membina hubungan yang hangat.
7) Meningkatkan motivasi belajar dan
rasa toleransi serta saling membantu dan mendukung dalam memecahkan masalah.
Kekurangan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD menurut Slavin (dalam Nurasma 2006:38), yaitu:
1) Siswa yang kurang pandai dan
kurang rajin akan merasa minder berkerja sama dengan teman-teman yang lebih
mampu.
2) Terjadi situasi kelas yang gaduh
singga siswa tidak dapat bekerja
secara efektif dalam kelompok.
![]() |
| www.helpersetia.com |




Post a Comment
Jika Anda Ingin Memberi Masukan/Saran, Pertanyaan, Atau Diskusi Mengenai Postingan Ini, Anda Dapat Mengisikannya Pada Kotak Komentar Berikut Ini.