NAMA : HADI H NABABAN
NIM : 16/400254/TK/45268
PEMANFAATAN BAHAN BAKAR THORIUM
(Th-232)
·
Thorium merupakan bahan fertil yang apabila menyerap netron
akan menjadi bahan fisil U-233 yang dalam reaktor nuklir dapat menghasilkan
reaksi berantai sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar PLTN.
·
Jumlah cadangan thorium dunia cukup besar yaitu 3-4 kali
lebih banyak dibanding uranium dan terdistibusi secara merata. Thorium-232
beberapa ratus kali lebih banyak dibanding uranium-235.
·
Thorium dioksida secara kimia juga lebih stabil dan tahan
radiasi dibanding uranium dioksida.
·
Hasil fisi 1 atom U-233 lebih besar yaitu 81,95 TJ/kg
dibanding hasil fisi 1 atom U-235 (77 TJ/kg).
·
Thorium alam merupakan bahan fertil, karena itu thorium dan
bahan bakar berbasis thorium seperti thorium karbida, oksida dapat digunakan
dalam reaktor daya dan raektor riset dalam bentuk kombinasi dengan isotop fisil
U-235 atau Pu-239.
·
Pada dasarnya, Uranium-233 telah digunakan sebagai bahan
bakar untuk beberapa jenis reaktor, seperti :Heavy Water Reactors (PHWR), High Temperature Gas Cooled Reactors (HTR), Boiling Water Reactors (BWR), Pressurized Water Reactors (PWR), Fast Neutron Reactors (FNR), Molten Salt Reactors (MSRs, LFTRs).
·
Mineral thorium ditemukan dalam sebagian besar batuan dan tanah.
Pada umumnya tanah mengandung rata-rata sekitar 6 ppm thorium. Selain dalam
tanah, thorium juga terdapat dalam beberapa mineral dan mineral utama yang
mengandung thorium adalah Monazit (Ce,La,Y,Th)PO4, thorit (Th,U)SiO4),
Brockite (Ca,Th,Ce)(PO4) H2O, Xenotime (Y,Th)PO4,
Euxenite (Y,Ca,Ce,U,Th)(Nb,Ta,Ti) 2O6 dan thorianite (ThO2+UO2).
·
Kandungan thorium dalam mineral berbeda-beda tergantung
lokasi, dan rata-rata mengandung thorium oksida sekitar 6-7%.
·
Terdapat 2 proses yang dapat dilakukan untuk mengekstraksi
thorium dari monazit yaitu proses asam dan proses alkali.
·
Sifat kimia : Thorium merupakan unsur yang mempunyai sifat
reaktif dan dapat bereaksi dengan oksigen, hidrogen, halogen dan sulphur.
Thorium bereaksi secara lambat dengan air, tetapi tidak mudah larut dalam
hampir semua asam, kecuali asam khlorida. Serbuk
thorium bersifat pyrophoric (terbakar secara spontan dengan udara), karena itu harus berhatihati dalam penanganannya.
thorium bersifat pyrophoric (terbakar secara spontan dengan udara), karena itu harus berhatihati dalam penanganannya.
·
Sifat fisika : Thorium
murni merupakan logam bersifat radioaktif, berwarna putih keperakan yang
relatif stabil dalam udara. Thorium oksida mempunyai titik leleh sekitar
3.300°C, yang merupakan nilai tertinggi dibanding titik leleh oksida lainnya
serta titik didih 5063 K (4790 °C). Terdapat 25 isotop thorium
yang dikenal dan semuanya tidak stabil dengan massa atom antara 212 hingga 236.
Isotop thorium yang paling stabil
adalah thorium-232 dengan waktu paruh 14.05 juta tahun.
Dalam teras reaktor, Th-232 menyerap
netron menjadi Th-233 yang selanjutnya meluruh dengan sangat cepat (waktu
peluruhan 22 menit) menjadi Protactinium-233 (Pa-233) dan meluruh lagi menjadi
U-233 (waktu peluruhan 27 hari):
Th-232+n →Th-233 (22 m) →Pa-233 (27
d) →U-233.
·
Sifat neutronik : thorium-232 merupakan bahan fertil yang
lebih unggul dibanding U-238, karena tampang lintang serap netron Th-232 dalam
reaktor termal 3 kali tinggi dibanding
U-238 dimana untuk Th-232 (7.4 barns) dan U-238 (2.7 barns). Sehingga, konversi Th-232-
233U lebih efisien dibanding U-238 – Pu-239 dalam spektrum netron termal.
U-238 dimana untuk Th-232 (7.4 barns) dan U-238 (2.7 barns). Sehingga, konversi Th-232-
233U lebih efisien dibanding U-238 – Pu-239 dalam spektrum netron termal.
Ditinjau dari energi yang dihasilkan,
hasil fisi 1 atom U-233 menghasilkan energi sebesar 197.9 MeV dan fisi 1 atom
of U-235 menghasilkan 200 MeV, karena itu untuk menghasilkan energi yang sama
untuk bahan bakar thorium membutuhkan netron yang lebih banyak dibanding U-235.
·
Dalam reaktor, thorium (Th-232) berubah menjadi bahan fisil
U-233. Bahan fisil U-233 tersebut dapat dieroleh kembali sebagai hasil
reprosesing bahan bakar basis thorium bekas yang biasa disebut dengan Thorex (Thorium Extraction).
·
ThO2 mempunyai konduktivitas panas lebih tinggi
dan koefisien ekspansi panas yang lebih rendah dibanding UO2, ini
berakibat temperatur bahan bakar lebih rendah, yang berdampak strain lebih rendah pada kelongsong
sehingga hal ini memungkinkan bahan bakar dapat dioperasikan dengan waktu
tinggal dalam reaktor yang lebih lama.
·
Titik leleh ThO2 (3378°C) lebih tinggi sekitar
500°C dibanding uranium dioksida (2865°C). Perbedaan temperatur ini dapat digunakan
untuk menyediakan marjin keselamatan yang cukup apabila terjadi kenaikan temperatur
akibat kehilangan pendingin (loss of
coolant).
·
Reaktor berbasis thorium tidak menghasilkan Pu-239 sehingga
tidak dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
·
Tantangan : Titik leleh ThO2 (3.350°C) lebih
tinggi dibanding UO2 (2.800°C), karena itu, dibutuhkan temperatur
sintering yang lebih tinggi (>2.000°C) untuk memproduksi bahan bakar
campuran oksida (mixed oxide)
berbasis ThO2 and ThO2 dengan densitas tinggi.
Pencampuran bahan bantuan (CaO, MgO,
Nb2O5 dan lain-lain) diperlukan untuk mencapai densitas
pelet yang diinginkan pada temperatur rendah.
Sumber : Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol. 14
No. 1, Juni 2012
“Analisis
Potensi Thorium Sebagai Bahan Bakar Nuklir Alternatif PLTN”
Oleh:
Erlan Dewita.
Pusat Pengembangan
Energi Nuklir (PPEN) – BATAN.




Post a Comment
Jika Anda Ingin Memberi Masukan/Saran, Pertanyaan, Atau Diskusi Mengenai Postingan Ini, Anda Dapat Mengisikannya Pada Kotak Komentar Berikut Ini.