NAMA : HADI H NABABAN
NIM : 16/400254/TK/45268
LIQUID SCINTILLATION COUNTERS
A.
PENGENALAN
Ada dua sistem yang berbeda untuk mendeteksi dan
menghitung cacah radiasi berdasarkan teknik sintilasi yang telah dikembangkan,
yaitu : Solid Scintillation Counting (SSC) dan Liquid Scintillation Counting
(LSC) berdasarkan material sintilasi yang digunakan. Dalam paper ini akan
dibahas Liquid Scintillation Counting (LSC).
LSC
adalah pengukuran aktivitas dari suatu sampel radionuklida yang menggunakan
teknik mencampur sampel tersebut dengancairan sintillator dan menghitung foton
yang dipancarkan. Sintilator yang digunakan pada LSC (pelarut organik) cenderung untuk mendeteksi
partikel beta dan neutron. LSC merupakan detektor yang sangat populer.
Kepopuleran dari detektor ini adalah konsekuensi dari sejumlah kelebihan,
dimana efisiensi dari pendeteksian sangat tinggi, peningkatan teknik penyiapan
sampel, automasi termasuk pemrosesan data di komputer, dan kemampuan detektor
sintilasi dalam pengujian
nuklida-nuklida berbeda secara bersaman.
B.
MEKANISME KERJA LSC
Peluruhan radioaktif disertai dengan
radiasi dari partikel atau radiasi elektromagnetik dari sebuah atom karena
terjadi perubahan di dalam nukleus. Bentuk emisinya antara lain : partikel
alpa, partikel beta, dan sinar gamma. Partikel alpa dan beta secara langsung
mengionisasi atom yang berinterkasi dengannya. Sinar gamma
menyebabkanpemancaran elektron sekunder yang kemudian mengionisasi atom lain.
Penomena sintilasi membentuk basis dari sekumpulan sistem
pengukuran radiasi yang sangat sensitif. Intensitas cahaya dari sintilasi
proporsional dengan energi awal yang masuk ke sintilator melalui radiasi
ionisasi oleh karena itu, cahaya yang dipancarkan ini diambil sebagai ukuran
aktivitas sampel.
Detektor sintilasi mengukur mengukur
radiasi ionisasi. Sebuah detektor sintilasi terdiri dari sebuah sintilator,
sebuah photo-multiplier tube (PMT)
dan sebuah multchannel analyzer (gambar.
1). LSC mendeteksi sintilasi yang dihasilkan di scintillation cocktail melalui radiasi. PMT adalah sebuah pipa
elektron yang mendeteksi cahaya biru dari sintilasi dan mengkonversikannya
menjadi aliran elektron dan kemudian mengukur sebagai pulsa listrik. Ketika
sintilasi foton mengenai photocathode PMT, maka akan menghasilkan
photoelectron. Dengan menggunakan high voltage power suplay (HVPS), elektron
tersebut akan ditarik dan mengenai dynode terdekat dengan energi yang cukup
akan melepaskan elektron tambahan. Elektron generasi kedua ini juga akan
ditarik dan mengenai dynode kedua, disertai dengan pelepasan elektron lagi.
Proses ini terjadi hingga 10-12 tingkat.
Elektron terus menerus di pancarkan
dan rantai tersebut berlanjut sampai elektron menggapai dynode terakhir, proses
selanjutnya adalah mengirim pulsa tegangan melewati hambatan eksternal.
Magnitud dari tinggi pulsa yang dihasilkan PMT proporsional dengan intensitas
foton yang dipancarkan sintilator (cocktail scintillator pada LSC).
Pulsa tegangan ini kemudian
diperbesar dan dicatat di multichannel yang mengelompokkan setiap pulsa
tegangan. Pulsa disusun dalam kanal-kanal, dan cacah per waktu dicatat pada
setiap kanal. Setiap kanal berhubungan
energi dari radioaktif yang dicacah. Ketika semua telah selesai di susun,
peneliti akan mengetahui intensitas radiasi (biasanya dalam cps) dan distribusi
energi atau spektrum.
Gambar.1.
detektor sintilasi secara umum
C.
KARAKTERISTIK DETEKTOR
Pada
LSC, sampel dilarutkan pada larutan cair organik atau cocktail scintillator
(yang merupakan sensor detektor ini) dan proses sintilasi terjadi di larutan
sintillator. Kontak yang sangat dekat ini, antara sintilator dengan radioaktif
memastikan transfer energi yang efisien antara partikel radioaktif dengan
larutan. Umumnya LSC digunakan untuk
mengukur radiasi dari radionuklida pemancar beta. Beberapa isotop
pemancar beta (seperti P-32) bisa danalisa pada LSC tanpa menggunakan cocktail,
tetapi menggunakan teknik yang disebut dengan Cherenkov Radiation. Cherenkov berdasarkan pada muatan partikel
yang lewat melalui sebuah medium transparan yang lebih cepat dari kecepatan
cahaya relatif terhadap medium yang dilewatinya. Radiasi cherenkov yang
dihasilkan dideteksi langsung oleh photomultiplier tube.
Untuk
menghitung efisiensi detektor akan beragam untuk isotop berbeda, komposisi
sampel dan detektor yang digunakan. Efisiensi
yang kecil bisa diakibatkan oleh energi yang sangat kecil untuk dikonversi. LSC yang menghitung
partikel alpa memiliki efisiensi yang tinggi (mendekati 100%). Pada
pendeteksian pemancar beta, LSC adalah
yang paling penting, dimana pada pemancar beta energi tinggi (seperti Sr-89,
Y-90, P-32), efisiensinya mendekati 100%, sedangkan untuk energi yang
rendah efisiensinya berkisar 50-60%
untuk H-3, 95% untuk C-14.
Dead
time dari detektor sintillasi secara umum adalah 1-5 mikrosekon. Nilai ini
sangat kecil jika dibandingkan dengan detektor gas. Sintillator adalah detektor
dengan respon yang sangat cepat, rise time dari pulsa sangat pendek, sehingga
inilah salah satu kelebihan detektor ini.
D.
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN
Keunggulan
yang paling utama dari detektor ini adalah efisiensinya yang sangat tinggi. Selain
itu, kelebihan dari detektor ini adalah peningkatan teknik penyiapan sampel,
automasi termasuk pemrosesan data di komputer, dan kemampuan detektor sintilasi
dalam pengujian nuklida-nuklida berbeda
secara bersaman. Dead time dari detektor sintillasi juga sangat kecil, secara
umum adalah 1-5 mikrosekon. Sintillator adalah detektor dengan respon yang
sangat cepat.
Kelemahan
dari detektor ini adalah tidak bisa digunakan untuk mencacah radionuklida
pemancar sinar gamma.
E.
APLIKASI DETEKTOR LSC
a. Environmental liquid
scintillation counting
Environmental liquid scintillation counting adalah pengukuran
radionuklida alam dan anthropogenik, tapi seringkali konsentrasi radionuklida rendah
sehingga harus menggunakan detektor LSC. Banyak radionuklida yang secara rutin
diukur pada level lingkungan termasuk air, tanah, sedimentasi, dan lain-lain.
Pada prinsipnya, ini akan menjadi analisis radionuklida pemancar beta tanpa
pemancaran gamma yang signifikan, termasuk H-3, C-14,Cl-36, Sr-89, Y-90, Tc-99,
dan Pu-241 tapi juga bisa menganalisis radionuklida pemancar alpa.
b. Radiocarbon
dating
Basis dari teknik rdiocarbon dating adalah kerelativ-an
produksi C-14 yang konstan di atmosper paling atas. C-14 digunakan secara luas
pada berbagai disiplin ilmu, termasuyk geologi, arkeologi, ilmu mineral, imu
tanah, oceanography,, dan lain-lain. Pada umumnya,LSC digunakan untuk
pengukuran ini.
c. Radioimmunoassay
Radioimmunoassay adalah sebuah teknik pendeteksian dari
sejumlah kecil zat, dalam ukuran nanogram dari zat biologi atau farmasi, di
dalam darah atau fluida lain yang menggunakan reaksi antigen/antibody.
F.
DAFTAR PUSTAKA
1. Benito, carmen,dkk.
Liquid and
solid scintillation : principles and applications. Barcelona, Spain : Universitat de
Barcelona.
2. Tsoulfanidis, Nicholas.2015.Measurement
and Detection of Radiations, 4th edition.NW:CRC press.
3. www.wikipedia.com. Liquid
Scintillation Counting. Diakses pada tanggal : 28 November 2017.
“DOWNLOAD”




Post a Comment
Jika Anda Ingin Memberi Masukan/Saran, Pertanyaan, Atau Diskusi Mengenai Postingan Ini, Anda Dapat Mengisikannya Pada Kotak Komentar Berikut Ini.