Ringkasan Buku Psikologi
Pendidikan Drs. Mustaqim
Identitas Buku
Judul : Psikologi Pendidikan
Penulis : Drs. Mustaqim dan Drs. Abdul Wahib
Penerbit : Rineka Cipta
Tahun Terbit : 1991
ISBN : 979-518-045-2
Cetakan : Pertama
Tebal Buku : 146 Halaman
Isi Buku
Buku ini terdiri atas 7 bab yang masing-masing bab membahas tentang tujuan, lapangan dan metode psikologi pendidikan; hereditet dan lingkungan hidup; pertumbuhan dan perkembangan; perbedaan individu; masalah belajar; pengukuran dan penilaian; dan perihal anak bermasalah.
Adapun ringkasan isi buku dari tiap bab akan dituliskan sebagai berikut:
Bab 1. Tujuan, Lapangan dan Metode Psikologi Pendidikan
A. Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan merupakan ilmu yang membahas segi-segi psikologi dalam lapangan pendidikan. Dari sudut tingkah laku dan perbuatan manusia dalam segala macam situasi, maka psikologi pendidikan adalah studi ilmiah mengenai tingkah laku individu dalam situasi pendidikan.
Tujuan psikologi pendidikan ialah mempelajari tingkah laku manusia dan perubahan tingkah laku itu sebagai akubat proses dari tangan pndidikan dan berusaha bagaimana suatu tingkah laku itu seharusnya diubah, dibimbing melalui pendidikan.
B. Psikologi Pendidikan sebagai Ilmu Pengetahuan
Psikologi pendidikan dikatakan sebagai ilmu pengetahuan bila memenuhi syarat-syarat ilmu pengetahuan. Syarat-syarat ilmu pengetahuan, yaitu:
1. Ilmu harus memiliki obyek;
2. Ilmu disusun secara sistematis;
3. Ilmu harus memiliki tetodologi tertentu.
Objek psikologi pendidikan sudah jelas. Hal ini dapat menegaskan bahwa psikologi pendidikan merupakan ilmu pengetahuan.
C. Psikologi Pendidikan sebagai Ilmu Pengetahuan yang Diterapkan Teknik
Para ahli psikologi pendidikan pada umumnya berpendapat bahwa psikologi pendidikan merupakan ilmu pengetahuan terpakai dan merupakan pengebdian psikologi dalam lapangan pendidikan. Para ahli psikologi pendidikan dalam menciptakan hukum teori selalu dilaksanakan dalam praktek pendidikan di sekolah. Dapat disimpulkan pula bahwa psikologi pendidikan dapat berperan sebagai teknik dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan.
D. Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Pada umumnya isis atau daerah psikologi pendidikan dapat dibagi menjadi 4 golongan:
1. Pertumbuhan dan perkembangan individu;
2. Masalah belajar dan perbuatan belajar;
3. Pengukuran dan penilaian;
4. Penyuluhan dan bimbingan.
E. Metode Psikologi Pendidikan
Dalam psikologi pendidikan metode-metode yang sering digunakan ada 9 macam:
1. Metode Instropeksi;
2. Metode Observasi:
3. Metode Eksperimen;
4. Metode Test;
5. Metode Angket;
6. Metode Proyeksi;
7. Metode Case Studi;
8. Metode Klinis; dan
9. Metode Statistik.
F. Arti dan Manfaat Psikologi Pendidikan Bagi Guru
Pengetahuan psikologi pendidikan merupakan salah satu pengetahuan yang perlu dipelajari dan dipahami oleh seorang guru agar dapat menjalankan tugas sebagai guru dengan cara yang sebaik-baiknya. Dengan mempelajari psikologi pendidikan ini, guru akan lebih mudah dalam memahami peserta didik dan memperlakukan peserta didik sesuai dengan sifatnya.
Bab 2. Hereditet dan Lingkungan Hidup
A. Pandangan Tentang Hereditet dan Lingkungan Hidup
Heriditet dan lingkungan hidup tidak dapat tidak dapat dipisahkan dalam proses perkembangannya. Walau setiap sifat dan ciri pada manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan hereditet atau pembawa pengaruh tak selalu sama. Pengaruh hereditet dan lingkungan tak selalu tetap, tetapi paling tidak tergantung pada tiga variabel:
1. Sifat yang ada;
2. Sifat lingkungan; dan
3. intensitet lingkungan.
B. Mekanisme Hereditet
Mekanisme dikontrol oleh kromosom dalam sel kelamin. Kromosom itu tersusun dari ribuan protoplasma yang mengandung gen-gen sebagai pembawa hereditet.
C. Hukum Mendel
Menurut Grogor Mendel, hereditet berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Ia tertarik pada tumbuhan kacang-kacangan yang ia tanam di halaman rumahnya. Ia mengawinkan tumbuh-tumbuhan dan mengawinkan beberapa tumbuhan yang tak sama bunganya dan dikawinkan dari generasi ke generasi. Hal ini menimbulkan hukum keturunan dengan nama Hukum Mendel. Hukum ini ada 3 prinsip, yaitu:
1. Prinsip Dominan;
2. Prinsip Sagregasi; Dan
3. Prinsip Ciri-Ciri Unit.
D. Hukum Mendel Pada Manusia
Penyelidikan yang dilakukan terhadap manusia sangat terbatas bila dibandingkan dengan tumbuhan dan hewan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Kaidah-kaidah masyarakat tidak membolehkan cara-cara itu dilakukan terhadap manusia;
2. Tumbuhan dan hewan lebih mudah di kontrol; dan
3. Pada umumnya, banyak anak dalam satu keluarga pada manusia sedikit sehingga hal ini menjadi kesulitan untuk menentukan hereditet.
Akan tetapi, penyelidikan yang dilakukan terhadap family history menunjukkan juga bahwa pada manusia terdapat sifat-sifat dan ciri-ciri yang diturunkan, dan dalam keturunan berlaku Hukum Mendel.
E. Hereditet Dalam Lapangan Mental
Penyelidikan dalam lapangan mental hasilnya tidak meyakinkan seperti hasil penyelidikan mengenai jasmani, salah satu contoh adalah penyelidikan sejarah keluarga. Penyelidikan ini dilakukan oleh Dagdale (1877) terhadap keluarga Jubes (1920). Ia seorang dari keluarga lemah jiwa, kemudian keturunannya sejumlah 11250 dilacak, tuna susila, pencuri, penjahat dan sampai 1877 hanya dua jumlah keluarga yang belajar dagang. Penyelidikan mengenai sejarah keturunan seperti itu sulit untuk dipastikan kebenarannya, karena variabel-variabel yang mempengaruhi kehidupan individu tidak dapat dikontrol dengan sewajarnya. Penyelidikan ini menimbulkan kecenderungan untuk membenarkan keyakinan si penyidik yang timbul sebelum penyelidikan itu dilakukan.
F. Hukum Hereditet
Ada 4 pokok Hukum Hereditet, yaitu
1. Hukum Reproduksi
Menurut hukum in,i hereditet berlangsung dengan perantara sel benih, berarti tidak melalui sel somatis (sel tumbuh).
2. Hukum Konformitet
Menurut hukum ini, setiap jenis spesies menurunkan jenis spesiesnya sendiri atau setiap golongan makhluk akan menurunkan golongan makhluk-makhluk itu sendiri.
3. Hukum Variasi
Menurut hukum ini, individu-individu dalam satu spesies , disamping adanya ciri-ciri dan sifat-sifat yang menunjukkan persamaan, disamping itu terdapat juga variasi-variasi sifat dan ciri-ciri dimana hal itu menyebabkan adanya perbedaan individu yang satu dengan yang lainnya.
4. Hukum Regresi Fisial
Menurut hukum ini, sifat dan ciri manusia menunjukkan ke arah kecenderungan rata-rata. Anak yang berasal dari orang tua sangat cerdas ada kecenderungan untuk menjadi lebih cerdas dari pada orang tuanya.
G. Perlengkapan Dasar Dan Ajar Yang Penting
1. Perlengkapan Dasar
Perlengkapan dasar merupakan perlengkapan yang dimiliki organisme atas dasar pembawaan, bukan yang diperoleh karena dipelajari. Perlengkapan ini ada sejak organisme itu dilahirkan. Perlengkapan dasar yang erat sekali dengan kehidupan sekolah dalam rangka pendidikan adalah:
Struktur jasmani;
Gerak-gerakan/ motive;
Dorongan;
Sifat mencela (plastis);
Kapasitas untuk tumbuh dan berkembang; dan
Kapasitas untuk belajar.
2. Perlengkapan Ajar
Perlengkapan ajar merupakan perlengkapan yang diperoleh akibat usaha-usaha belajar dan pengelaman-pengalaman lain. Yang termasuk perlengkapan ini diantaranya adalah dorongan kecakapan-kecakapan, kecekatan-kecekatan dalam lapangan ilmu pengetahuan, kesenian, bahasa dan norma-norma hidup.
Bab 3. Pertumbuhan Dan Perkembangan
A. Pengertian dan peristiwa pertumbuhan
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akubat dari adanya pengaruh lingkungan. Peristiwa pertumbuhan pribadi manusia bertolak dari peristiwa awal herediter. Manusia terbentuk dari material yang lemah. Material yang dimaksud adalah material genetis.
B. Hukum-hukum pertumbuhan
1. Pertumbuhan Adalah Kuantitatif Serta Kualitatif
Perubahan kuantitatif mencakup divisian dan perbanyakan kromosom, sel-sel; penambahan jumlah seperti gigi, rambut, pembesaran material jasmaniah. Kejadian seperti ini dapat dikatakan sebagai tumbuh. Sedangkan perubahan kualitatif mencakup penyempurnaan struktur fisiologis; penyiapan fungsi-fungsi setiap bagian tubuh, dan sebagainya. Kejadian seperti ini dapat dikatakan bertumbuh.
2. Pertumbuhan Merupakan Suatu Proses Yang Berkesinambungan Dan Teratur
Pertumbuhan merupakan suatu proses yang berkesinambungan, mulai dari keadaan sederhana sampai pada keadaan yang kompleks.
3. Tempo Pertumbuhan Adalah Tidak Sama
Urutan atau sequence pertumbuhan tidak bergerak dalam waktu yang konstan. Disamping itu indikator-indikator kematangan tidak muncul dalam saat-saat yang teratur.
4. Taraf Perkembangan Berbagai Aspek Pertumbuhan Adalah Berbeda-Beda
Tidak semua aspek pertumbuhan seperti fungsi jasmani, bahasa dan kapasitas intelektual berkembang dengan taraf yang sama dalam waktu yang sama.
5. Kecepatan Serta Pola Pertumbuhan Dapat Dimodifikasi Oleh Kondisi-Kondisi Di Dalam Dan Di Luar Badan
Meskipin dorongan untuk tumbuh adalah kuat dan meskipun pola-pola pertumbuhan adalah sudah tentu pada semua pihak, namun kecepatan dan pola pertumbuhan dapat berubah tergantung kepada lingkungan yang menunjang kebutuhan-kebutuhan dasar individu.
6. Masing-Masing Individu Tumbuh Dengan Caranya Sendiri Yang Unik
Keunikan pertumbuhan pada masing-masing individu itu antara lain disebabkan oleh:
Perbedaan kondisi lingkungan internal;
Perbedaan kondisi lingkungan eksternal;
Perbedaan materi hereditar;
Perbedaan aktivitas;
Perbedaan kondisi fisiologis seperti cacat-cacat fisik;
Perbedaan usia;
Perbedaan jenis kelamin; dan
Perbedaan hasil belajar.
7. Pertumbuhan Adalah Kompleks, Dan Semua Aspeknya Saling Berhubungan
Banyak kegagalan yang dialami oleh para ahli dalam menemukan hubungan timbal balik dalam pertumbuhan individu yang disebabkan karena pertumbuhan sendiri merupakan suatu proses yang kompleks, sedangkan berbagai aspek yang menunjang pertumbuhan itu saling berhubungan.
C. Aspek-Aspek Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Adapun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi:
1. Anak sebagai keseluruhan;
2. Umur mental anak mempengaruhi pertumbuhannya;
3. Permasalahan tingkah laku sering berhubungan dengan pola-pola pertumbuhan; dan
4. Penyesuaian pribadi dan sosial mencerminkan dinamika pertumbuhan.
D. Pengertian Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungsional.
E. Teori Perkembangan
Pada umumnya, teori mengenai perkembangan berkisar kepada persoalan yang berhubungan dengan pengaruh pembawaan dan lingkungan hidup bagi perkembangan individu. Berikut ini merupakan teori yang mempunyai pengaruh terhadap praktek pendidikan di sekolah, yaitu:
1. Teori Nativisme
Menurut teori ini, anak sejak lahir telah membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu.
2. Teori Empirisme
Menurut teori ini, manusia tidak memiliki pembawaan. Seluruh perkembangan hidupnya sejak lahir sampai dewasa semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar atau faktor lingkungan hidup dan pendidikan.
3. Teori Naturalisme
Menurut teori ini, manusia itu pada dasarnya baik, ia jadi buruk dan jahat karena pengaruh kebudayaan.
4. Teori Rekapitulasi
Menurut teori ini, perkembangan individu merupakan ulangan dari perkembangan jenisnya.
5. Teori Konvergensi
Menurut teori ini, manusia dalam perkembangan hidupnya dipengaruhi oleh bakat/ pembawaan dan lingkungan atau oleh dasar dan ajar.
F. Prinsip-Prinsip Perkembangan
Prinsip-prinsip perkembangan yang telah dirumuskan oleh para ahli , diantaranya adalah:
1. Prinsip kesatuan organis;
2. Prinsip tempo dan irama perkembangan;
3. Tiap-tiap golongan (spesies) mengikuti pola perkembangan umum yang sama;
4. Prinsip konvergensi;
5. Prinsip kematangan;
6. Setiap proses perkembangan terdapat hasrat mempertahankan diri;
7. Sifat psikis tidak timbul secara berturut-turut tetapi dalam waktu yang bersamaan;
8. Perkembangan meliputi diferensiasi dan integral;
9. Pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan asuhan yang perlu dilakukan secara sadar.
Bab 4. Perbedaan Individu
A. Sifat Hakikat Perbedaan Individu
Perbedaan setiap individu tidak hanya mengenai besar, bentuk dan roman muka, tetapi juga mengenai tingkah laku dan perbuatan. Walaupun dua orang sepintas lalu menunjukkan adanya ciri-ciri jasmani yang sama, maka bila diamati secara seksama terdapat juga perbedaan-perbedaan itu.
B. Usaha-Usaha Untuk Mengatasi Perbedaan Individu Di Sekolah
Usaha-usaha untuk mengatasi perbedaan individu tidak dapat ditentukan secara pasti. Hal ini tergantung pada tujuan pendidikan. Bila pendidikan itu bukan mengembangkan intelektualisme maka usaha mengadakan rombongan yang homogen didasarkan atas dasar kecerdasan adalah usaha yang terbaik. Bila pendidikan hanya bertujuan untuk mengembangkan sifat-sifat individu, tanpa melihat kepentingan masyarakat,maka sistem Montessori, yaitu pendidikan yang bersifat individual kiranya merupakan sistem yang paling baik untuk dilaksanakan.
Bab 5. Masalah Belajar
A. Proses Belajar
Belajar merupakan proses perubahan. Perubahan-perubahan itu tidak hanya perubahan lahir melainkan juga perubahan batin, tidak hanya perubahan tingkah laku yang nampak, tetapi perubahan-perubahan yang tidak dapat diamati. Dalam masalah belajar ini, metode belajar akan banyak mempengaruhi cara belajar orang yang sedang belajar. Apabila mata pelajaran diberikan tanpa tujuan dan murid diharuskan mengingat-ngingat dan mendapatkan hal-hal yang tidak bertujuan, ini akan melemahkan semangat belajar. Sebaliknya apabila mata pelajaran diatur sedemikian rupa dan mempunyai tujuan tujuan tertentu dan murid memiliki pengertian yang luas, maka semangat belajar akan datang dengan sendirinya, tidak hanya dalam arti mendapatkan keterangan dan kecakapan tetapi juga didalam arti menambah kekuatan untuk mengartikan, kecakapan untuk mempergunakan dan mengubah sikap.
B. Faktor-Faktor Lain Yang Mempengaruhi Belajar
Selain cara belajar ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Kemampuan pembawaan;
2. Kondisi fisik orang yang belajar;
3. Kondisi psikis anak;
4. Kemauan belajar;
5. Sikap terhadap guru, mata pelajaran, dan pengertian mereka mengenai kemajuan mereka sendiri;
6. Bimbingan; dan
7. Ulangan.
C. Metode Belajar
Ada dua metode yang sering digunakan, yaitu:
1. Metode keseluruhan; dan
2. Metode bagian.
Belajar dengan metode keseluruhan, caranya ialah mempelajari bahan sebagai suatu kesatuan. Belajar dengan metode bagian adalah mempelajari bahan dengan cara membagi bahan atas begian-bagian. Makin berarti suatu bahan makin baik untuk mempelajarinya dengan mempergunakan metode keseluruhan. Tetapi sebaliknya makin kurang berarti sesuatu bahan, misalnya kata-kata yang satu dengan yang lain tidak ada hubungannya, lebih tepat jika mempergunakan metode bagian.
D. Faktor Umur
Pada umumnya orang yang masih muda lebih mudah untuk belajar dalam hal mengingat dan menyimpan bahan pelajaran. Sedangkan orang yang sudah tua lebih sukar untuk belajar. Tetapi ini bukan berarti berlaku dalam pemecahan masalah.didalam pemecahan masalah orang yang lebih tua akan lebih mahir, karena sudah memiliki pengalaman. Sedangkan anak muda pengalamannya relatif kurang, hingga untuk pemecahannya dalam masalah ini kecakapannya kurang.
E. Motivasi Dalam Belajar
Menurut Woodworth dan Marques motif adalah suatu tujuan jiwa yang mendorong individu untuk aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan tertentu terhadap situasi di sekitarnya. Tugas guru dalam memberikan motivasi anak ialah mengingat adanya dinamika anak dan membimbing dinamika anak. Maksudnya ialah supaya anak yang belajar dalam membentuk dinamika manusia ini tidak melalui pengalaman-pengalaman yang kurang baik.
F. Belajar Kecekatan Dan Pengetahuan
Kehidupan ini membutuhkan kecekatan yang tinggi dalam bercakap membaca, menulis, berenang, dan lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah:
1. Pengaruh latihan istimewa pada masa kanak-kanak;
2. Pengaruh lingkungan;
3. Perkembangan kecekatan motorik;
4. Perkembangan motorik yang mula-mula; dan
5. Perkembangan kecekatan motorik kemudian.
G. Belajar Persepsuil
Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman yang sekarang dan yang lampau dan juga dipengaruhi oleh sikap individu pada waktu itu. Keadaan fisik dari pancraindera, perhatian, pengalaman yang lampau mempengaruhi luas dan kualitas dari persepsi itu. Persepsi tentang situasi yang tertentu di dapat dari:
1. Bagaimana pengalaman dan pendidikan individu sebelumnya;
2. Rangsangan yang spesifik yang menimbulkan alat-alat indera pada waktu itu; dan
3. Interpretasinya.
Ada pula persepsi yang selama ini disebut ilusi. Kesalahan mungkin disebabkan rangsangan yang tidak sesuai, atau alat-alat indera yang kurang baik, atau indera persepsi yang salah. Hal ini terutama sering terjadi terhadap gerakan jarak jauh atau waktu yang lampau dapat menyebabkan ilusi.
H. Berfikir Kreatif Dan Reflektif
Kecakapan untuk berfikir terang adalah salah satu yang dapat memungkinkan orang untuk dapat menguasai sungguh yang dipelajari; mempunyai salah satu faktor untuk dapat efisien dan berhasil ini tidak berarti bahwa faktor-faktor lain tidak berguna atau bahwa lain faktor tidak begitu penting.
Berfikir refleksif juga sering disebut pemecahan problem. Ini terjadi apabila ada sesuatu yang menyisip dalam pencapaian sesuatu tujuan.
I. Transfer Belajar (Latihan)
Transfer belajar merupakan masalah yang sangat penting dalam psikologi pendidikan. Secara praktis semua program pendidikan dibangun atas dasar bahwa semua manusia mempunyai kemampuan untuk mentransfer apa yang mereka pelajari dari suatu situasi ke situasi yang lain.
J. Belajar Tuntas
Belajar tuntas merupakan perbuatan belajar sebagai proses penguasaan. Belajar tuntas dengan demikian berarti bahwa setiap anak dalam kelas yang dihadapi akan secara tuntas menguasai pelajaran yang disajikan terlebih dahulu barulah dapat berpindah pada pelajaran berikutnya.
Prinsip-prinsip belajar tuntas ada 3, yaitu:
1. Perbedaan waktu belajar;
2. Umpan balik sering dan segera; dan
3. Perbaikan.
Bab 6. Pengukuran Dan Penilaian
Fungsi pengukuran dan penilaian dalam pendidikan ialah guru menyadari pentingnya dan perlunya pengukuran di sekolah-sekolah hal ini mengetahui prestasinya. Pengukuran yang berbentuk test atau ujian itu mempunyai fungsi yang bermacam-macam, antara lain untuk:
1. Mengukur hasil pembuatan belajar;
2. Mengadakan evaluasi terhadap perbuatan mengajar;
3. Pengukuran dapat juga dipergunakan sebagai alat menimbulkan motivasi;
4. Menyadarkan anak kepada kemampuannya;
5. Pengukuran dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam usaha belajar; dan
6. Dapat dijadikan dasar menentukan penghargaan atau hadiah.
Bab 7. Perihal Anak Bermasalah
Seorang siswa dikategorikan sebagai anak yang bermasalah apabila ia menunjukkan gejala-gejala penyimpangan dari perilaku yang lazim dilakukan oleh anak-anak pada umumnya. Penyimpangan perilaku ada yang sederhana ada juga yang ekstrim. Penyimpangan perilaku yang sederhana semisal: mengantuk, suka menyendiri, kadang terlambat datang, sedangkan ekstrim ialah semisal sering membolos, memeras teman-temannya, ataupun tidak sopan kepada orang lain juga kepada gurunya.
Banyak orang yang berpandangan bahwa apa yang ada adalah merupakan suatu aksi yang akan menimbulkan reaksi. Bahwa apa yang terjadi pada para siswa adalah semata-mata perilaku mereka sendiri yang lepas dari latar belakang yang menyebabkannya. Apa yang dilakukan oleh murid tidaklah merupakan satu aktivitas yang independen, tetapi itu berkaitan erat dengan peristiwa sebelumnya. Oleh karena itu jika ada suatu masalah maka perlu ditelusuri sampai ke pokok masalahnya. Hal ini untuk menghindari adanya perlakuan yang kurang sesuai terhadap para siswa.
Secara garis besar pangkal soal masalah-masalah siswa dapat dikelompokkan menjadi dua:
1. Internal
Sebab-sebab internal ialah sebab-sebab yang berpangkal dari kondisi simurid itu sendiri. Hal ini bisa bermula dari adanya kelainan fisik maupun kelainan psikis.
2. Eksternal
Sebab-sebab eksternal ialah sebab-sebab yang hadir dari luar si murid. Sebab-sebab eksternal berpangkal dari keluarga, pergaulan, salah asuh atau pengalaman hidup yang tak menyenangkan.
Bentuk-bentuk masalah yang dihadirkan siswa dapat dibagi menjadi dua sifat, regresif dan agresif. Bentuk-bentuk yang bersifat regresig antara lain: suka menyendiri, pemalu, penakut, mengantuk, tidak mau masuk sekolah. Sedangkan yang bersifat agresif antara lain ialah: berbohong, membikin onar, memeras temannya, beringas, dan perilaku-perilaku lain yang bisa menarik perhatian orang lain.
Secara sistematis langkah-langkah yang perlu diambil meliputi:
Memanggil dan menerima anak yang bermasalah dengan penuh kasih sayang;
Dengan wawancara yang dialogis diusahakan dapat ditemukannya sebab-sebab utama yang menimbulkan masalah;
Memahami keberadaan anak dengan sedalam-dalamnya;
Menunjukkan cara penyelesaian masalah yang tepat untuk direnungkan oleh anak kemudian untuk dikerjakannya;
Menemukan segi-segi kelebihan anak agar kelebihan itu diaktualisir guru mengatasi kekurangannya; dan
Menembahkan nilai-nilai spiritual yang benar.
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN DARI BUKU PSIKOLOGI PENDIDIKAN :
1 Cover
• Desain sampulnya (simpel) sederhana dan tidak terlalu mencolok.
• Desain sampulnya kurang menarik minat pembaca.
• Kurangnya cocoknya pemilihan warna pada cover buku.
2 Daftar isi
• Disertai dengan daftar isi yang lengkap
3 Isi Buku
• Buku ini membahas tentang Psikologi Pendidikan yang saya rasa cukup lengkap.
• Adanya keterkaitan antar paragraf pada setiap penulisan isi buku.
• Daftar pustaka yang banyak dan lengkap.
• Terdapat kutipan pendapat para ahli (ilmuan).
• Terdapat kata-kata yang berulang dalam penulisan sehingga membuat pembaca bingung dan harus membacanya dengan seksama.
• Ada banyak kata yang sulit untuk dipahami sehingga diperlukan pengertian terhadap kata tersebut.
• Ada banyak penggunaan tanda baca yang tidak sesuai (tidak tepat untuk ditempatkan pada suatu kalimat).
• Buku ini masih kurang lengkap jika di bandingkan dengan buku Psikologi Pendidikan (Sebuah Orientasi Baru) yang di tulis oleh Dr. Iskandar, M.P.d
• Buku ini sudah terlalu lama dan disarankan untuk direvisi kembali sesuai dengan perkembangan ilmu teknologi dan pendidikan.
• Banyak kata yang tidak sesuai EYD dikarenakan buku sudah terlalu lama.
• Tidak adanya riwayat penulis buku Psikologi Pendidikan ini.




Post a Comment
Jika Anda Ingin Memberi Masukan/Saran, Pertanyaan, Atau Diskusi Mengenai Postingan Ini, Anda Dapat Mengisikannya Pada Kotak Komentar Berikut Ini.