Ringkasan Buku Psikologi Pendidikan Drs. M. Dalyono

Ringkasan Buku Psikologi Pendidikan Drs. M. Dalyono

Critical Book Kewarganegaraan buku pembanding

Judul Buku : Psikologi Pendidikan
Edisi : Pertama, Cetakan ke-8
Penulis : Drs. M. Dalyono                       
Penerbit : Rineka Cipta
ISBN : 978-979-518-706-6
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : iii + 267
Kertas isi  :  HVS
Cover  : Soft
Ukuran  : 14 x 20 cm

Berat : 300 gram

Ringkasan Buku

Bab I
Pengertian dan Ruang Lingkup Ilmu Kejiwaan
Psikologi berasal dari 2 kata bahasa yunani, yaitu psyche yang bebarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa. Pada umumnya para ilmuan membagi psikologi menjadi 2 golongan, yaitu: Psikologi Metafisika, yang menyelidiki hakekat jiwa. Psikologi Empiri, yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku manusia dengan menggunakan pengamatan, percobaan dan pengumpulan berbagai macam datayang ada hubungannya dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.

Adapun mengenai pendidikan ada beberapa pendapat yang dituliskan diantaranya adalah bahwa pendidikan merupakan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga psikologi pendidikan dapat didefenisikan ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan individu atau tingkah lakunya di dalam situasi pendidikan.

Pada dasarnya ilmu jiwa pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan yang meliputi tingkah laku belajar, tingkah laku mengajar, dan tingkah laku belajar mengajar. Inti persoalan psikologi pendidikan dengan tanpa mengabaikan psikologi guru terletak pada siswa. Secara garis besar psikologi pendidikan banyak ilmuan membatasi dalam 3 pokok bahasan, yaitu pokok bahasan mengenai (1) belajar, (2) proses belajar dan (3) situasi belajar.

Di sisi lain, Crow and Crow mengemukakan ruang lingkup psikologi pendidikan antra lain (1) sampai sejauh mana factor hereditas dan lingkungan berpengaruh terhadap belajar, (2) sifat-sifat dari proses belajar, (3) hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar, (4) signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar, (5) perubahan selama dalam belajar, (6) hubungan prosedur mengajar dengan hasil belajar, (7) teknik bagi penilaian kemajuan belajar, (8) pengaruh pendidikan formal dibandingkan informal terhadap individu, (9) manfaat nilai ilmiah terhadap pendidikan bagi personel sekolah, dan (10) pengaruh psikologi yang ditimbulkan oleh kondisi sosiologi terhadap sikap siswa.

Bab II
Peranan Ilmu Jiwa Pendidikan Dalam Dunia Pendidikan
Para pendidik diharapkan memiliki pengetahuan psikologis pendidikan yang sangat memadai agar dapat mendidik para siswa melalui proses belajar mengajar yang berdaya guna dan berhasil guna. Pengetahuan ini akan berguna mempelajari gejala kejiwaan anak, perkembangan anak, minat dan bakatnya, cara belajar dan membimbingnya serta bagaiman mengawasi hasil belajarnya yang tepat.
Menurut Lindgren manfaat psikologi pendidikan adalah untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kependidikan dan prosesnya. Sementara itu, Chaplin menitikberatkan manfaat psikologi pendidikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan cara menggunakan metode-metode yang telah disusun rapi dan sistematis. Dari dua macam pendapat tersebut, secara umum psikologi pendidikan merupakan alat bantu yang penting bagi para penyelenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal ini dikarenakan prinsip yang terkandung dalam psikologi pendidikan dpat dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengelola proses belajar mengajar.
Setidak-tidaknya ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerluksn prinsip-prinsip psikologi, yaitu (1) seleksi penerimaan siswa baru, (2) perencanaan pendidikan, (3) penyusunan kurikulum, (5) administrasi kependidikan, (6) pemilihan materi pelajaran, (7) interaksi belajar mengajar, (8) pelayanan bimbingan dan penyuluhan, (9) metode mengajar, (10) pengukuran dan evaluasi. Untuk menerapkan prinsip-prinsip psikologi tersebut diperlukan guru-guru yang berkompeten dan bertanggung jawab. Berkompeten artinya bahwa guru mampu melaksanakan profesinya dengan baik dan benar. Adapun bertanggung jawab adalah guru mampu mengelola prose belajar mengajar dengan sebaik-baikny sesuai dengan prinsip-priinsip psikologis.
Dengan adanya perkembangan teknologi sekarang ini, dampaknya jugasanat terasa dalam dunia pendidikan. Banyak teknologi yang dikembangkan untuk media pendidikan yang justru dalam penerapannya jauh dari prinsip-prinsip psikologi. Untuk mengatasi persoalan ini hendaknya dalam proses belajar siswa dibawa kepada keaktifan yang tinggi baik secara fisiologi maupun psikologi.

Bab III
Teori – Teori Psikologi Belajar
Dalam Bab ini dijelaskan dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan muncul pula berbagai aliran psikologi pendidikan yaitu (1) psikologi behavoristik, (2) psikologi kognitif, (3) psikologi humansitik. Dalam setiap periode perkembangan aliran psikologi tersebut, mulcullah teori-teori tentang belajar, yaitu: Teori belajar psikologi behavioristik, yang berendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkunganmereka pada masa lalu dan masa sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil belajar. Bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran (reword) dan penguatan (reinforcement). Teori – teori ini dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson dan Guthrie.
Teori belajar psikologi kognitif, yang berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar seseorang terlibat langsung dalm situasi itu dan memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah. Insight itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha”, “oh”, “I see now”. Teori – teori ini dipelopori oleh Gestalt, Mex Wertheimer, Lewin, Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler.
Teori belajar psikologi Humanistis, yang orientasinya utamanya tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk membantu siswa mengembangkan dirinya, mengenal dirinya sendiri sebagai mausia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Tokoh yang menonjol pada aliran ini adalah Combs Maslov, dan Rogers.
Dengan demikian hal terpenting yang harus diperhatikan adalah tentang tujuan belajar. Bahwa belajar merupakan suatu usaha atau perbuatan yang dilakukan sedara bersungguh-sungguh, sistematis, mendayagunakan semu potensi yang dimiliki baik fisik mental serta dana panca indera, otak dan tubuhserta aspek-aspek kejiwaan sepertiintelegensi, bakat, minat motivasi dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki hidup untuk mencapai cita-cita. Dalam perjalanannya, dalam pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar yang meliputi (1) kematangan jasmani dan rohani, (2) memiliki kesiapan, (3) memahami tujuan, (4) memiliki kesungguhan, (5) ulangan dan latihan.

Bab IV
Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
Ada dua bagian kondisional pribadi manusia baik secara jasmaniah maupun secara rohaniah, yaitu (1) bagian pribadi materil yang kuantitatif dan (2) bagian pribadi fungsional yang kualitatif. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada materiil sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan, sedangkan bagian pribadi fungsinal yang kualitatif mengalami perkembangan.
1. Pertumbuhan
Peristiwa pertumbuhan pribadi manusia berawal dari peristiwa awal herediter. Secara genetis manusia terbentuk dari satu sperma dan satu telur. Keduanya mewakili sifat dari orang tuanya yang pada akhirnya akan turun kepada anaknya sebagai individu baru. Dalam perjalanannya, pertumbuhan ini diatur oleh hokum-hukum antara lain (a) pertumbuhan adalah kuantitaif dan kualitatif, (b) pertumbuhan merupakan proses yang berkesinambungan dan teratur, (c) tempo pertumbuhan adalah tidak sama, (d)  taraf perkembangan dari berbagai aspek pertumbuhan adlah tidak sama, (e) kecepatan serta pola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi-kondisi di dalam dan di luar badan, (f) masing-masing individu tumbu menurut caranya sendiri yang unik, (g) pertumbuhan adalah kompleks, dan semua aspeknya saling berhubungan.

Pertumbuhan yang mengenai tinggi dan berat badan, sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan internal seperti makanan, gizi, perangai, dan lain-lain. Sedangkan kondisi lingkungan eksternal misalnya suhu udara, aktivitas social, dan lain-lain. Dalam kondisi pertumbuhan normal tinggi badan anak dapat ditafsirkan dengan rumus :
Tinggi badan anak laki-laki =  (tinggi badan ayah + 100% tinggi badan ibu) / 2
Tinggi badan anak perempuan = (tinggi badan ibu + 92% tinggi badan ayah)/ 2

2. Perkembangan
Perkembangan pribadi diartikan sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar. Setiap fungsi tersebut dapat mengalami perubahan. Perkembangan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan. Kematangan pada fungsi jasmaniah sangat mempengaruhi perubahan fungsi-fungsi kejiwaan. Hokum-hukum dalam perkembangan adalah (1) perkembangan adalah kualitatif, (2) perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses hasil dari belajar, (3) usia ikut mempengaruhi perkembangan, (4) masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda, (5) dalam keseluruhan periode perkembangan setiap spesies perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama, (6) perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan, (7) perkembangan yang lambat dapat dipercepat, (8) perkembangan meliputi proses individuasi dan integrasi

2.1    Tahap-Tahap Perkembangan
Perkembangan pribadi manusia meliputi perkembangan fisiologis, perkembangan psikologis, perkembangan social dan perkembangan didaktis atau pedagogis.
Perkembangan fisiologis
Menurut Sigmund Freud ada 6 tahap perkembangan fisiologis pada manusia yaitu (a) tahap oral (umur 0 sd sekitar 1 tahun) dimana mulut bayi merupakan daerah utama dari aktivitas dinamis manusia, (b) tahap anal (umur 1 sd 3 tahun) yaitu dorongan dan gerak individu lebih banyak terpusat pada fungsi pembuangan kotoran, (c) tahap falish (umur 3 sd 5 tahun) dimana alat-alat kelamin menjadi perhatian penting, (d) tahap latent (umur 5 sd 12/13 tahun) dimana anak belajar bersosialisasi, fungsi imajinasi, ingatan dan pikiran mulai berkembang, mulai mampu berpikir kritis, (e) tahap pubertas (umur 12/13 sd 20 tahun) dimana kelenjar-kelenjar indoktrin tumbuh pesat dan berfungsi mempercepat pertumbuhan kearah kematangan, (f) tahap genital (setelah umur 20 tahun) yaitu pertumbuhan genital merupakan dorongan penring bagi tingkah laku sesorang.
Perkembangan Psikologis
Menurut Jean Jacques Rousseou perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia berlangsung dalam 5 tahap, yaitu tahap (a) perkembangan masa bayi (sejak lahir – 2 tahun) dimana perkembangan kepribadian didominasi oleh perasaan, (b) perkembangan masa kanak-kanak (2 s.d 12 tahun) dimana perkembangan pribadi anak dimulai dengan berkembangnya fungsi-fungsi indra anak untuk mengadakan pengmatan, (c) perkembangan pada masa preadolesen (umur 12 s.d 15 tahun) dimana perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan, (d) perkembangan pada masa adolesen (umur 15 s.d 20 tahun) dimana perkembangan terhadap kualitas kehidupan yang diwarnai oleh dorongan seksual yang kuat, (e) masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun) dimana perkembangan fungsi kehendak sangat dominan. Pada perkembangan psikologis secara umum ada kegoncangan psikologis dialami oleh individu yaitu pada masa umur 3 atau 4 tahun dimana anak mulai menemukan “aku”-nya, dan pada masa pubertas.
Tahap perkembangan secara pedagogis
Tahap perkembangan pedagogis dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan dan sudut tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan. Menurut Hohn Amos Comenius, dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan perkembangan pribadi manusia terdiri atas 5 tahap, yaitu tahap (a) tahap enam tahun pertama, yaitu tahap perkembangan penginderaan sehingga anak mampu mengenal lingkungannya, (b) enam tahun kedua, yaitu tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi individu sehingga mampu menganalisis lingkungan dengan kemampuan daya pikirnya, (c) enam tahun ketiga, yaitu perkembangan fungsi intelektual sehingga anak mampu mengevaluasi sifat-sifat serta menemuka hubungan antar variable di dalam lingkungannya, (d) enam tahun keempat, tahap perkembangan berdikari, “ self direction” dan “self controle”, (e) tahap kematangan pribadi, dimana intelek memimpin perkembangan semua aspek kepribadian menuju kematangan pribadi.
Mengenai perkembangan pribadi dari sudut pandang tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan secara otomatis dapat diambil dari tinjauan pertama. Di sini tinggal memberikan perlakuan-perlakuan yangdiperlukan dalam pendidikan, seperti pemeliharaan makanan, pembiasaan untuk hidup teratur, latihan mengindra, member latihan berpikir, memupuk rasa tanggung jawab dan lain-lain.

Bab V
Pembawaan dan lingkungan
5.1 Pembawaan
Setiap individu lahir dengan membawa hereditas tertentu, ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya dan selebihnya dari nenek dan moyangnya. Warisan atau keturunan memiliki peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Para ahli meyakini bahwa hokum mendel mengenai pewarisan sifat berlaku juga untuk manusia. Warisan atau pembawaan yang terpenting adalah:
    Bentuk tubuh dan warna kulit
Sifat – sifat
Sifat dan kebiasaan merupakan cora (warna) dari kepribadian seseorang atau suku bangsa. Para ahli telah membagi tipe-tipe manusia berdasarkan sifat yang dimilikinya. Salah satunya dikemukakan oleh Edward Sparanger yaitu (a) manusia ekonomi, yang memiliki sifat hemat, rajin bekerja, (b) manusia teori yang memiliki sifat suka berpikr, meneliti, (c) manusia politik yang suka menguasai dan memerintah, (d) manusia seni yang suka keindahan, (e) manusia agamis yang suka mengabdi dan taat ibadah.
Intelegensi, yaitu kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Dalam bab ini dijelaskan beberapa teori untuk mengetahui tingkat intelegensi seseorang.
Interval angka kecerdasannya adalah:
140 – ke atas        = luar biasa cerdas (genius)
120 – 139             = sangat cerdas (superior)
110 – 119             = di atas normal
90 – 109               = normal
80 – 89               = di bawah normal
70 – 79               = borderline (garis batas)
50 – 69               = debile
26 – 49               = embicile
0  – 25               = idiot

5.2  Lingkungan
Secara fisiologis, lingkugan meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, system saraf, darah, kelenjar-kelenjer indoktrin dan lain-lain. Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima individumulai sejak dalam konsesi kelahiran sampai matinya. Stimulasi itu misalnya berupa sifat-sifat gen, selera, keinginan, minat, emosi, perasaan, kebutuhan, kapasitas intelektual, dan lain-lain.
Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan (a) keluarga, (b) sekolah, (c) masyarakat dan (d) keadaan alam sekitar.

Bab VI
Ciri – Ciri Kematangan
Pada bab ini penulis kembali menjelaskan beberapa prinsip dan teori-teori perkembangan menurut para ahli. Diantaranya teori perkembangan menurut Airstoteles, Charlotte Buchler, Johan Amos Comenius, H.C Witherington dan Masrun,MA.  Khusus tentang prinsip kematangan, bahwa yang dimaksud dengan kematangan adalah kemampuan seseorang untuk berbuat sesuatu dengan cara-cara tertentu. Singkatnya ia telah memiliki intelegensi. Kecerdasan atau intelegensi seseorang member kemungkinan bergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupannya.
Perubahan jasmani memerlukan bantuan “motor learning” agar pertumbuhan itu mencapai kematangan. Kematangan atau kondisi fisik baru akan memperoleh pengakuan social apabila individu yang bersangkutan mengusahakan “social learning” (belajar berinteraksi dengan orang lain atau kelompok serta menyesuaikan diri dengan nilai-nilai serta minat-minat kelompok). Dengan demikian diharapkan individu mencapai tingkat-tingkat kematangannya sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhannya, belajarnya dan lingkungan sosialnya.
Kesadaran individu terhadap stimulus di alam sekitar maupun di dalam tubuh di pimpin oleh aktivitas sel-sel khusus di dalam system saraf yang disebut “receptor”. Tingkah laku manusia dapat terbagi atas dua macam, yaitu:
1. “Responden behavior”, yaitu tingkah laku bersarat dan tidak disengaja, selalu tergantung kepada stimulus.
2. “Operan behavior”, yaitu tingkah laku disengaja dan tidak selalu tergantung kepada stimulus.
Setiap jenis tingkah laku, baik yang sengaja atau tidak, memerlukan kematangan fungsi jasmaniah, terutama fungsi-fungsi system saraf, dan fungsi-fungsi vital jasmaniah. Perkembangan struktur dan fungsi otak tampak sempurna atau hamper sempurna pada saat anak tiba masuk pada sekolah dasar.
Kematangan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologis dalam system saraf, otak dan indra sehingga semua itu memungkinkan individu matangmengadakan reaksi-reaksi terhadap setiap stimulus lingkungan. Menurut English & English, kematangan adalah keadaan atau kondisi bentuk, struktur, dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organism, baik terhadap satu sifat bahkan seringkali semua sifat. Kematangan membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disebut dengan “readiness”, yaitu untuk bertingkah laku baik tingkah laku yang instingtif atau tingkah laku yang dipelajari. Cronbach memberikan readiness sebagai segenap sifat atau kekuatan yang membaut seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu.
Pembentukan readiness anak dipengaruhi oleh lingkungan atau kultur di sekelilingnya. Stimulasi lingkungan serta hambatan-hambatan mental individu mempegaruhi perkembangan mental, kebutuhan, minat, tujuan, perasaan dan karakterindividu yang bersangkutan. Hal ini terjadi karena setiap anak mempunyai perbedaan individual dan sejarah atau latar belakang yang berbeda. Selain itu, kematangan emosional orang tua juga sangat berpengaruh serta menentukan taraf pemuasan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang penting pada anak dalam kehidupannya di keluar       Emosi orang tua yang telah mencapai kedewasaan menyebabkan perkembangan yang sehat pada anak-anaknya. Sebaliknya emosi orang tua yang belum stabil akan menimbulkan kesukaran-kesukaran dalam usaha anak untuk mendewasakan diri secara emosional atau membebaskan dirinya secara emosional dari orang tuanya.

Bab VII
Kemampuan dan Intelegensi
1.      Kemampuan
Salah satu tujuan dari pendidikan adalah menolong anak mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, dan karena itu pendidikan sangat menguntungkan bagi anak maupun bagi masyarakat. Anak didik memandang sekolah sebagai tempat untuk mencari sumber “bekal” yang akan membuka dunia bagi mereka. Orang tua memandang sekolah sebagai tempat dimana anaknyaakan mengembangkan kemampuannya. Bimbingan merupakan sebagian dari pendidikan yang menolong anak mengenal diri serta kemampuannya dan juga dunia di sekitarnya.
Agar dapat menolong anak dalam mengembangkan potensi kepribadian dan kemampuannya, anak harus dikenal dalam segala aspeknya dan dalam konteks (situasi) hidupnya dimana ia hidup. Kita harus mengenal hal-hal yang umum dan khusus pada diri anak. Factor-faktor umum yang harus dikenal adalah (1) hakekat anak, (2) kebutuhan pokok anak dan (3) langkah-langkah perkembangan anak. Ada motto yang berbunyi “ makin kita mengenal diri sendiri, makin kita mengenal orang lain. Makin kita terampil mengembangkan dan mengubah diri sendiri, makin kita berhasil menolong orang mengembangkan diri.
Dalam bab ini juga dijelaskan kembali tentang hukum-hukum perkembangan antara lain (1) hukum konvergensi, yaitu perkembangan manusia pada dasarnya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan, (2) hukum pertahanan dan pengembangan diri, yaitu bahwa manusia atau organisme lainnya memiliki dorongan hasrat mempertahankan diri dari hal-hal yang negative, (3) hukum masa peka, yaitu terdapat masa yang tepat yang terdapat pada diri anak untuk mengembangkan fungsi-fungsi tertentu seperti fungsi mulut untuk berbicara, (4) hukum keperluan belajar, yaitu pada dasarnya anak berkembang karena belajar, (5) hukum tempo perkembangan, yaitu lambat atau cepatnya proses perkembangangan seseorang tidak sama dengan orag lain, (6) hukum irama perkembangan, yaitu bahwa perkembangan manusia tidak tetap terkadang naik terkadang turun, (7) hukum rekapitulasi yaitu bahwa perkembangan individu mencerminkan evolusi kehidupn jenis mahluk hidup dari tingkat yag paling sederhana ke tingkt yang paling kompleks.
Inteligensi
Pada sub ini diuraikan beberapa defenisi tentang inteligensi antara lain yang dikemukakan oleh Super dan Cites, Garret, Bischof, dan Heidentich. Dari beberapa pendapat tentang inteligensi maka dapat ditarik kesimpulan inteligensi merupakan kemampuan untuk dapat memecahkan suatu masalah dalam segala situasi yang baru atau yang mengandung masalah.
Terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang inteligensi yaitu (1) teori “uni-factor”, yaitu yang memandang bahwa inteligensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum, (2) teori “two factor”, yaitu teori inteligensi yang dikembangkan berdasarkan suatu factor mental umum yang diberi kode “g” serta factor-faktor spesifik yang diberi tanda “s”, (3) teori “multi-factor”, yaitu bahwa inteligensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan respon, (4) teori “ primary-mental-abilities”, yang menjelaskan bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan pribadi / kemampuan primer (5) teori “sampling”, yaitu teori yang menjelaskan bahwa inteligensi merupakan berbagai kemampuan sampel.
Setiap orang memiliki inteligensi yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh pembawaan, kematangan, pembentukan, minta dan pembawaan yang khas serta kebebasan. Dan dari banyak penelitian yang dilakukan membuktikan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara inteligensi pria dan wanita. Walaupun antara pria dan wanita masing-masing memiliki kelebihan. Sampai saat ini ilmu pengetahuan belum dapat menjelaskan tentang pewarisan intelegensi.
CBSA
Dalam bab ini juga dijelaskan tentang Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yaitu suatu proses kegitan belajar mengajar yang subyek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional sehingga benar-benar berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Indicator untuk menilai cara belajar siswa aktif dalam KBM adalah dapat dilihat dari sudut pandang (1) siswa, (2) guru, (3) program, (4) stuasi belajar, dan (5) sarana belajar.
Penerapan CBSA dalam KBM melalui tahap perencanaan dan pelaksanaan termasuk penilaian. Agar pelaksanaannya menjadi optimal, maka dalam KBM perlu memperhatikan prinsip-prinsip belajar antara lain: (1) stimulasi belajar, (2) perhatian dan motivasi, (3) respon yang dipelajari, (4) penguatan dan (5) pemakaian dan pemindahan.

Bab VIII
Tipe-Tipe Dan Kesulitan Belajar
Dari uraian pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan perubahan; dalam tingkah laku, yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, relative mantap, dan perubahan dalam pengertian pemecahan suatu masalah/berpikir keterampilan, kecakapan, kebiasaan atau sikap.Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah (1) sikap, (2) inhibisi, (3) apresiasi, (5)tingkah laku afektif. Selain itu juga dijelaskan tentang aktivitas belajar yang meliputi mendengarkan, memandang, meraba, membau dan mencicipi, menulis dan mencatatnya, (6) membaca, (7) membuat iktisar atau ragkuma, (7) mengamati table-tabel, digram dan bagan, (8) menysun kertas kerja,paper danlain-lain.
Keanekaragaman jenis belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan manusia yang bermacam-macam. Tipe-tipe belajar tersebut antara laian: (1) belajar abstrak, (2) belajar keterampilan, (3) belajar social, (4) belajar pemecahan masalah, (5) belajar rasional, (6) belajar kebisaan, (7) belajar apresiasi dan (8) belajar pengetahuan
Aktivitas belajar setiap individu tidak selamanya berlangsung secara wajar. Dalamm keadaan siswa tidak dapat belajar sebagimana mestinya disebut sebagai kesulitan belajar. Kesulitan belajar dipengaruhi oleh: (1) factor dari diri manusia sendiri (fisiologi dan psikologi), (2) factor eksternal (factor nonssial, dan (3) factor karena cacat tubuh, (4) factor keluarga
Beberapa gejala sebagai pertanda ada kesulitan belajar pada diri siswa adalah:
    Menunjukkan prestasi yang rendah/dibawah rat-rata,
    Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilaukan,
    Lamban dalam melakukan tugas-tugas belajar,
    Menunjukkan sikap yang kurang wajar,
    Menunjukkan tingkah laku yang berlainan.
Di samping gejala-gejala yang tampak tersebut, guru juga dapat melakukan penyelidikan melalui (1) observasi, (2) interview, (3) tes diagnostic dan (4) dokumentasi. Setelah itu dilakukan usaha untuk mengatasi masalah melalui langkah (1) pengumpulan data, (2) pengolahan data, (3) diagnosis, (4) prognosis, (5) treatment dan (6) evaluasi.



Post a Comment

Jika Anda Ingin Memberi Masukan/Saran, Pertanyaan, Atau Diskusi Mengenai Postingan Ini, Anda Dapat Mengisikannya Pada Kotak Komentar Berikut Ini.

Follow This Blog

Distributed by Gooyaabi Templates | Designed by OddThemes