"Tertawalah.
Sebab Tertawa Menambah Usia Anda"
-Secangkir
Guna-
SELAMAT MEMBACA CERITA LUCU SECANGKIR GUNA (PART 3)
Di
sebuah kapal perang, terdapat seorang kapten angkatan laut bernama Kapten Gael.
Suatu
ketika, ada sebuah kapal bajak laut mencoba mendekati kapal kapten Gael ini.
Dengan
cepat, Kapten Gael segera dihubungi oleh anak buahnya bahwa ada sebuah kapal
bajak laut yang datang ke posisinya. Kapten Gael segera meminta seorang anak
buahnya untuk mengambilkan baju warna merahnya.
Anak
buah bertanya, "Mengapa Kapten membutuhkan baju merah?"
Sang
Kapten menjawab, “Karena ketika saya berdarah nantinya, kalian tidak akan
mengetahuinya dan tidak berkecil hati sehingga kalian tetap semangat untuk
berperang.”
Akhirnya
dengan semangat yang berkobar, mereka pun melawan para bajak laut tersebut dan
memenangkan pertempuran itu.
Keesokan
harinya, Kapten diberitahu bahwa 50 kapal bajak laut akan datang ke kapal
mereka.
Kapten
berteriak, "Ambilkan saya celana warna coklat !"
…
@@@ … Kapten Gk Rela Berkorban … @@@ …
Guru
kelas meminta siswa untuk memberi nama binatang yang dimulai dengan “G”.
Seorang anak laki-laki berkata, "Gajah."
Kemudian
guru itu meminta seekor binatang yang dimulai dengan “D”. Anak yang sama
berkata, "Dua Gajah."
Karena
itu, sang guru pun menghukum anak itu dengan cara mengeluarkannya dari kelas
karena perilaku buruk.
Setelah
itu sang guru meminta nama hewan yang diawali dengan "M".
Anak
itu berteriak dari sisi lain dinding: "Mungkin gajah!"
…
hag..hag …
Suatu
malam, di sebuah rumah kecil tepatnya pada bagian beranda rumah. Bercakp-cakap
seorang ibu dan seorang anaknya lelaki bernama Tuho. Kisah ini terjadi di
sebuah desa kecil di Nias. Di pertengahan desa ini, dialiri sebuah sungai
kecil. Namanya sungai Miga. Pada malam itu, tampak ibunya sedang menasehati
anaknya Tuho.
Ibu
: nak, lain kali, kalau sedang hujan, jangan pernah lagi melewati jembatan itu.
(*ibunya sambil menunjuk sebuah jembatan penyeberangan sungai Miga yang tak
jauh dari rumah).
Tuho
: emangnya knapa bu?
Ibu
: Dulu, ada banyak sekali para leluhur kita terkutuk menjadi Batu, karena
melanggar hukum dewa. Dan patung-patung mereka itu, dikubur tepat di bawah
jembatan itu. Makanya ibu melarang keras kamu untuk tidak melawati jembatan itu
disaat-saat hujan. Dengar itu Tuho??
Tuho
: Ia bu. (*Jawab Tuho ketakutan).
Setelah
malam itu, hari berlalu. Dua hari kemudian, tepatnya pada hari Jum’at
kiora-kira jam 1 siang, Tuho bersama satu orang kawannya Wino sedang berjalan
kaki sepulang dari sekolah. Cuaca saat itu begitu cerah.
Tak
jauh dari rumah Tuho, mereka melewati jembatan yang tadi. Secara tak disengaja,
mereka melihat sekumpulan gadis-gadis desa sedang mandi dan mencuci pakaian di sungai,
tak jauh dari jembatan.
Dengan
spontan, Wino langsung mengajak Tuho untuk menikmati indahnya pemandangan saat
itu. Mereka berdua akhirnya mengintip para gadis” yang sedang mandi itu.
Berselang
5 menit kemudian, Tuho merasa gugup dan berkeringat dingin.
Dia
berkata kepada Wino,
Tuho
: Win, pulang kita yok?
Wino
: ah kauu … bentar lagi laa. Nikmati saja dulu pemandangan ini.
Tuho
: anuu … anuu …
Wino
: kau kenapa sih Ho?
Tuho
: aku baru teringat perkataan ibuku kemarin. Kita gak boleh melewati jembatan
ini selagi hujan.
Wino
: emangnya kanpa? Lagian ini kan gk hujan Ho?
Tuho
: aduhhh … anuu … kata ibuku, kalau kita berlama-lama di jembatan ini, kita
bisa terkutuk jadi batu Win. (*sambil tertunduk memegang tubuh bagian bawahnya)
Wino
: ada” aja kau.
Tuho
: ia sueer … ini kayaknya aku uda mulai jadi batu Win…
Wino
: -- (*diam saja, mencuekkin Tuho dan malah lebih menikmati situasi saat itu)
Tuho
: Win, aku dah mulai terkutuk jadi batu ini … (*dengan perasaan sedih, gelisah,
Sambil memegang bagian bawah tubuhnya dengan kedua tangannya)
Wino
: …@@@ … geleng” kepala… @@@
Tuho
: Ia Win, ini bagian anuku sudah membatu.
…
@@@ … hag..hag … (*Perlu pencerahan dari Ilmu Psikologi) …



